AL-QUR’AN tentang MUSYAWARAH

KELAS X

BAB 7

MUSYAWARAH / DEMOKRASI

 

Standar Kompetensi :

7.      Memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang demokrasi

 

Kompetensi Dasar :

7.1.   Membaca Q.S. Ali Imran : 159 dan Q.S. Asy-Syuura : 38

7.2.   Menyebutkan arti Q.S. Ali Imran : 159 dan Q.S. Asy-Syuura : 38

7.3.   Menampilkan perilaku hidup demokrasi seperti terkandung dalam Q.S. Ali Imran : 159 dan Q.S. Asy-Syuura : 38 dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ringkasan Materi

Salah satu pengertian demokrasi adalah kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh majelis permusyawaratan rakyat. Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa demokrasi berkaitan dengan kekuasaan mayoritas dan suara rakyat melalui perwakilan. Dengan sistem tersebut, keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan mayoritas.

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah demorasi tidak lagi dianggap hanya sebagai metode kekuasaan mayoritas melalui partisipasi rakyat, akan tetapi juga mengimplikasikan nilai-nilai untuk bernegara dan bermasyarakat. Beberapa nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi antara lain perlindungan terhadap kepentingan individu, seperti kebebasan untuk berbicara dan berkumpul, kedudukan yang sama di mata hukum, hak untuk memiliki harta benda, dan jaminan proses hukum di pengadilan. Tentang seberapa jauh perlindungan terhadap kepentingan individu dan kebebasan, semuanya diatur melalui undang-undang dan kesepakatan moral.

Prinsip dan konsep demokrasi yang sejalan dengan Islam adalah keikutsertaan rakyat dalam mengontrol, mengangkat dan menurunkan pemerintah, serta dalam menentukan sejumlah kebijakan melalui wakilnya. Hal ini salah satunya memunculkan adanya proses musyawarah untuk mencari kemufakatan.

Menurut Salim Ali Al-Bahnasawi, sisi baik demokrasi adalah adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.

  1. A.    Musyawarah dalam Islam

Islam mengajarkan syura atau permusyawaratan. Kata musyawarah termasuk jenis kata mufa’alah atau perbuatan yang dilakukan secara timbal balik. Maka musyawarah haruslah bersifat dialogis, bukan monologis. Semua anggota musyawarah bebas mengemukakan pendapatnya. Dengan kebebasan berdialog itulah diharapkan dapat diketahui kelemahan pendapat yang dikemukakan, sehingga keputusan yang dihasilkan bisa menghilangkan atau meminimalkan kelemahan.

Musyawarah dalam Islam dilakukan guna membahas atau memutuskan masalah-masalah yang tidak terdapat aturan atau dalil yang kuat dari Al-Qur’an ataupun hadits terhadap suatu masalah umat. Sebagian pakar tafsir membatasi masalah permusyawarahan hanya untuk yang berkaitan dengan urusan dunia, bukan persoalan agama. Namun, sebagian lainnya memperluas adanya musyawarah disamping untuk urusan dunia, juga untuk sebagian masalah keagamaan. Alasannya, karena dengan adanya perubahan sosial, maka sebagian masalah keagamaan belum ditentukan aturannya di dalam Al-Qur’an maupun sunah Nabi SAW.

Nabi Muhammad SAW bermusyawarah dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan masyarakat dan negara, seperti persoalan perang, ekonomi, dan sosial. Bahkan beliau juga bermusyawarah (meminta saran dan pendapat dari sahabat) di dalam beberapa persoalan pribadi atau keluarga.

Musyawarah atau syura adalah sesuatu yang sangat penting guna menciptakan peraturan di dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap masyarakat yang menginginkan keamanan, ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakatnya, maka harus memegang prinsip musyawarah ini.

Islam sangat memperhatikan dasar musyawarah ini. Dalam Al-Qur’an terdapat surah yang diberi nama Asy-Syuura. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya musyawarah di dalam Islam. Adapun ayat yang menyinggung musyawarah, diantaranya terdapat pada surah Ali Imran ayat 159 dan surah Asy-Syuura ayat 38.

 

  1. B.     Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 159

 

$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$# (#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó™$#ur öNçlm; öNèdö‘Ír$x©ur ’Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBz•tã ö@©.uqtGsù ’n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ

 

  1. 1.      Identifikasi Tajwid Q.S. Ali Imran Ayat 159

$yJÎ6sù

Mad thabi’i Fathah bertemu Alif Mim fathah dibaca panjang 2 ketukan/ harakat

7pyJômu‘ z`ÏiB

Idgham bighunnah Kasratain/tanwin bertemu dengan Mim Tanwin dimasukkan ke huruf mim, seakan mim tasydid, dan ditahan selama 2 ketukan/ harakat

z «!$# `ÏiB

Mufakhamah Lam jalalalah yang didahului huruf fathah Lafadz lam jalalah (Allah) dibaca tebal

$ˆàsù xá‹Î=xî

Idzhar halqi Fathatain/tanwin bertemu dengan Ghain Tanwin dibaca jelas, tanpa dengung atau sengau

É=ù=s)ø9$#

Alif lam qamariyah Alif lam sukun bertemu Qaf Alif lam sukun dibaca jelas

(#q‘ÒxÿR]w

Ikhfa’ Nun mati bertemu Fa’ Nun sukun dipadukan dengan fa’ dibaca sengau dan ditahan selama 2 ketukan/ harakat

¨bÎ)

Ghunnah Nun tasydid Nun tasydid dibaca selama 2 ketukan/ harakat

tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$#

Mad aridl lissukun Mad thabi’I di akhir kalimat/sebelum waqaf Dibaca panjang 2, 4, atau 6 ketukan/harakat

 


  1. 2.      Mufradat/Kosa Kata Q.S. Ali Imran Ayat 159.

$yJÎ6sù 7pyJômu‘ z

:

Maka disebabkan rahmat

`ÏiB «!$#

:

Dari Allah

|MZÏ9 öNßgs9

:

Kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka

öqs9ur |MYä.

:

Sekiranya kamu bersikap

$ˆàsù xá‹Î=xî É=ù=s)ø9$#

:

Keras lagi berhati kasar

(#q‘ÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym

:

Tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu

ß#ôã$$sù öNåk÷]tã

:

Karena itu maafkanlah mereka

öÏÿøótGó™$#ur öNçlm;

:

Dan mohonkan ampun bagi mereka

öNèdö‘Ír$x©ur ’Îû ͐öDF{$#

:

Dan musyawarah dengan mereka dalam suatu urusan

#sŒÎ*sù |MøBz•tã

:

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekadmu (mencapai mufakat)

ö@©.uqtGsù ’n?tã «!$#

:

Maka bertawakallah kepada Allah

¨bÎ) ©!$#

:

Sesungguhnya Allah

=Ïtä† tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$#

:

Menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya

 

  1. 3.      Terjemahan Q.S. Ali Imran Ayat 159.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu (*). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”.

(*) Maksudnya : urusan yang berkaitan dengan hal-hal duniawi, seperti urusan dakwah, peperangan, politik, kemasyarakatan dan lain-lainya

 

  1. 4.      Isi/Kandungan Q.S. Ali Imran Ayat 159.

Pada ayat diatas disebutkan petunjuk sikap yang diperintahkan untuk dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi umatnya, khususnya ketika bermusyawarah. Walaupun secara redaksional perintah tersebut disematkan kepada Nabi SAW, namun pesan yang terdapat pada ayat tersebut bisa berlaku umum bagi tiap muslim yang melakukan musyawarah. diisyaratkan pada ayat tersebut mengenai sikap yang harus dilakukan untuk mensukseskan musyawarah, sifat atau sikap tersebut yaitu sebagai berikut.

 

  1. Lemah Lembut

Seseorang yang melakukan musyawarah, apalagi sebagai pemimpin, harus menghindari tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, maka orang yang diajak musyawarah tidak akan menyukainya dan akan lebih suka pergi menghindar.

  1. Pemaaf

Maaf, secara harfiah, berarti “menghapus”. Memaafkan adalah menghapus bekas luka di hati akibat perlakuan pihak lain yang pernah melukai fisik atau perasaan. Sifat pemaaf dan sikap memaafkan dalam musyawarah sangat diperlukan karena tiada musyawarah tanpa pihak lain, sedangkan kejernikahan pikiran bisa hadir bersamaan dengan hilangnya kekeruhan hati.

Di sisi lain, orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu bersedia memberi maaf. Karena mungkin saja ketika bermusyawarah terjadi perbedaan pendapat, atau keluar kalimat-kalimat yang menyinggung pihak lain. Dan bila hal  itu masuk ke dalam hati, maka akan mengeruhkan pikiran, bahkan boleh jadi akan mengubah musyawarah menjadi pertengkaran.

  1. Meminta Ampunan Allah

Orang yang melakukan musyawarah harus menyadari kecerahan atau ketajaman pemikiran, serta analisis akal saja tidaklah cukup. Artinya, hasil pemikiran akal tidak boleh menghasilkan keputusan yang bisa melanggar aturan Allah SWT.

Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang terbaik ketika musyawarah, hubungan dengan Allah pun harus dijaga. Itulah sebabnya, hal ketiga yang harus mengiringi musyawarah adalah permohonan maghfirah dan ampunan Allah bagi peserta musyawarah.

  1. Membulatkan Tekad untuk melaksanakan hasil musyawarah dan bertawakal

Pesan terakhir ayat tersebut di dalam konteks musyawarah adalah setelah musyawarah usai dan telah terwujud hasil kesepakatan bersama, maka hendaknya setiap peserta musyawarah bertekad bulat untuk melaksanakan hasil musyawarah kemudian bertawakal atau berserah diri kepada Allah.

Bertawakal artinya menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada ketentuan Allah SWT. Hal ini dilakukan setelah mengerahkan semua daya dan upaya semaksimal mungkn, misalnya dengan mengerahkan segenap kemampuan, harta dan usaha. Setelah semua dilakukan, maka kita harus bertawakal dan berdoa menunggu datangnya pertolongan Allah dengan sabar dan penuh pengharapan.

Dengan bertawakal, maka seseorang akan bersyukur apabila apa yang diusahakan membuahkan hasil sesuai dengan harapannya. Namun apabila tidak sesuai harapan, maka dia bersabar dan tidak akan putus harapan sehingga akan berusaha kembali. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berserah diri.

  1. C.    Al-Qur’an Surah Asy-Syuura Ayat 38.

tûïÏ%©!$#ur (#qç/$yftGó™$# öNÍkÍh5tÏ9 (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# öNèdãøBr&ur 3“u‘qä© öNæhuZ÷t/ $£JÏBur öNßg»uZø%y—u‘ tbqà)ÏÿZムÇÌÑÈ

  1. 1.      Identitas Tajwid Q.S. Asy-Syuura Ayat 38.

(#qç/$yftGó™$#

Mad thabi’i Fathah bertemu Alif dan dhommah bertemu wawu sukun Dibaca panjang 2 ketukan/harakat

öNÍkÍh5tÏ9 (#qãB$s%r&ur

Idzhar syafawi Mim sukun bertemua dengan wawu Mim sukun dibaca jelas

no4qn=¢Á9$#

Alif lam syamsiyah Alif lam sukun bertemu Shad Lam sukun tidak dibaca dengan jelas, langsung membaca huruf shad seakan huruf shad ditasydid.

$£JÏBur

Ghunnah Mim tasydid Mim tasydid dibaca selama 2 ketukan / harakat

öNßg»uZø%y—u‘

Qalqalah sughra Qaf sukun dalam satu kata Huruf qaf sukun dibaca kuat seakan dipantulkan

tbqà)ÏÿZãƒ

Mad aridl lissukun Mad thabi’i di akhir kalimat atau waqaf Dibaca panjang 2, 4, atau 6 ketukan/ harakat

 

  1. 2.      Mufradat/Kosa Kata Q.S. Asy-Syuura Ayat 38.

tûïÏ%©!$#ur

 

:

Dan bagi orang-orang yang

(#qç/$yftGó™$#

:

Menerima (mematuhi seruan)

öNÍkÍh5tÏ9

:

Tuhan mereka

(#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$#

:

Dan mendirikan salat

öNèdãøBr&ur

:

Sedang urusan mereka

3“u‘qä© öNæhuZ÷t/

:

(diputuskan) dengan musyawarah antara mereka

$£JÏBur öNßg»uZø%y—u‘ 

:

Dan sebagian dari apa yang telah Kami (Allah) berikan (rezekikan) kepada mereka

tbqà)ÏÿZãƒ

:

Mereka menginfakkannya

 

  1. 3.    Terjemahan QS. Asy-Syuura ayat 38.

     “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan    shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”

 

  1. 4.      Isi/Kandungan Makna Q.S. Asy-Syuura Ayat 38.
    1. Ayat ini menjelaskan bahwa beberapa sifat hamba Allah SWT yang baik, antara lain dirinya selalu menerima dan mematuhi seruan Allah SWT, selalu mendirikan salat yang telah diwajibkan kepadanya, serta menafkahkan sebagian rezekinya di jalan Allah.
    2. Ayat ini juga telah mengajarkan kepada kita agar membiasakan diri melalui musyawarah dalam mengatasi berbagai persoalan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, dan sebagai bagian dari warga negara. Dengan catatan, masalah tersebut tidak mempunyai penyelesaian atau dasar dalil yang kuat yang terdapat pada Al-Qur’an maupun hadits. Adapun bagi masalah yang sudah terdapat aturan yang jelas dan tegas di kedua sumber tersebut, maka tidak perlu dimusyawarahkan lagi.
    3. Ayat ini juga memerintahkan kepada kita agar selalu berusaha untuk mendirikan (menegakkan) salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kita peroleh untuk hal yang telah diatur dalam ketentuan Islam (termasuk zakat). Hal ini merupakan bagian dari rukun Islam.

Tugas Mandiri

  1. Bacalah kembali Q.S. Ali Imran ayat 159 dan Q.S. Asy-Syuura ayat 38! Renungkanlah arti dan maknanya. Buatlah kesimpulan mengapa seorang muslim harus mengedepankan musyawarah dalam persoalan umat yang tidak terdapat dalil dan aturan yang tegas dari Al-Qur’an dan hadits !
  2. Uraikan kesimpulan Anda dalam sebuah tulisan dan kumpulkan kepada Bapak/Ibu Guru serta mintakan pendapat mereka!

UJI KOMPETENSI

  1. I.       Tes Tertulis
  2. A.    Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d atau e pada jawaban yang paling benar !
  1. Salah satu petunjuk sikap yang harus dihindari saat bermusyawarah sesuai Q.S. Ali Imran : 159 yaitu . . . .

a.   bersikap tegas                                         d.      semaunya sendiri

b.   bersikap disiplin                                     e.      bersikap ketat

c.   bersikap keras dan kasar

 

  1. Potongan ayat 159 surat Ali Imran yang menyinggung hal musyawarah berbunyi . . . .

a.   فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ                  d.      وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

b.   فَاعْفُ عَنْهُمْ                                          e.      فِى اْلأَمْرِ

c.   وَشَاوِرْ هُمْ فِى اْلأَمْرِ

 

  1. Hukum bacaan tajwi idhgam bighunnah terdapat pada kalimat bergaris bawah berikut ini…

a.   رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ                                        d.      وَاسْتَغْفِرْ

b.   فَاعْفُ عَنْهُمْ                                          e.      عَنْهُمْ

c.   فِى اْلأَمْرِ

 

  1. إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Potongan ayat diatas menyebutkan bahwa Allah SWT menyukai orang-orang yang . . . .

a.   beramal shalih                                        d.      membayar zakat

b.   suka memaafkan                                    e.      bertawakal

c.   mau bermusyawarah

 

  1. Orang yang bertawakal, jika usahanya tidak sesuai dengan harapan, maka dia akan . . . .

a.   menyalahkan Allah                                d.      bermusyawarah

b.   putus asa                                                e.      kesal dan marah-marah

c.   bersabar

 

  1. Sebagaimana disebut dalam Q.S. Ali Imran:159, jika mufakat telah dicapai maka orang yang mengikuti musyawarah wajib. . . .

a.   berta’aruf antar sesama                          d.      bertawakal kepada Allah SWT

b.   menentang keputusan bersama              e.      melakukan musyawarah tandingan

c.   memberikan maaf bagi yang bersalah

 

  1. لِنتَ لَهُمْ

Yang bergaris bawah pada potongan ayat di atas, hukum bacaan tajwidnya adalah . . . .

a.   iqlab                                                       d.      ikhfa’ hakiki

b.   idzhar halqi                                            e.      ghunnah

c.   qalqalah sughra

 

  1. Dalam Islam, syua diutamakan untuk memutuskan perkara yang . . . .

a.   sangat rumit                                           d.      tidak ada jalan keluarnya

b.   telah dincontohkan Nabi SAW              e.      mudah

c.   tidak ada dalil kuat dari Al-Qur’an dan hadits

 

  1. Potongan ayat 38 surat Asy-Syuura yang menyinggung hal musyawarah berbunyi . . . .

a.   وَأَقَامُوا الصَّلَوَاةَ                                    d.      وَأَمْرُهُمْ

b.   وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ                          e.      لِرَبِّهِمْ

c.   وَالَّذِيْنَ اَسْتَجَابُوْا

 

  1. Makna kalimat فَاعْفُ عَنْهُمْ  adalah salah satu petunjuk sikap agar dalam bermusyawarah kita harus . . . .

a.   berlaku lemah lembut                             d.      menjauhi kekerasan

b.   bertawakal                                              e.      memaafkan

c.   keras dan kasar

 

  1. Hukum bacaan dari potongan ayat bergaris bawah di bawah ini adalah ghunnah, yaitu. . . .

a.   لِرَبِّهِمْ                                                     d.      وَمِمَّا

b.   الصَّلَوةَ                                                   e.      وَأَقَامُوْا

c.   وَالَّذِينَ

 

  1. Kandungan Q.S. Asy-Syuura:38 mencakup amalan berikut, kecuali . . . .

a.   mematuhi seruan Allah SWT        d.   menafkahkan sebagian rezeki di jalan Allah

b.   mendirikan salat                            e.   memohonkan ampunan bagi yang bersalah

c.   melakukan musyawarah dalam urusan duniawi

 

  1. Kalimat dalam Q.S. Asy-Syuura:38 yang menyiratkan agar menafkahkan sebagian rezeki adalah . . . .

a.   وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوْالِرَبِّهِمْ                         d.      وَاسْتَغْفِرْلَهُمْ

b.   وَأَقَامُوْا الصَّلَوةَ                                     e.      وَمِمَّارَزَقْنَهُمْ يُنفِقُوْنَ

c.   وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ

  1. رَزَقْنَهُمْ

Hukum bacaan tajwid yang terdapat pada potongan ayat bergaris bawah di atas adalah. . .

a.   idgham                                                   d.      qalqalah sughra

b.   iqlab                                                       e.      mufakhamah

c.   mad layin

  1. رَزَقْنَهُمْ Cara membaca kalimat yang bergaris bawah adalah . . . .

a.   samar-samar                                           d.      terang dan jelas

b.   memantul                                               e.      salah semua

c.   mendengung

 

  1. 1.   فَتَوَكَّلْ                                                    4.      عَلَى اللهِ

2.   فَإِذَا عَزَمْتَ                                            5.      اَلْمُتَوَكِّلِيْنَ

3.   إِنَّ اللهَ                                                    6.      يُحِبُّ

Urutan yang benar dari kailimat diatas adalah . . . .

a.   1-2-3-4-5-6                                             d.      2-1-4-5-6-3

b.   2-1-4-3-6-5                                             e.      2-1-4-3-5-6

c.   6-5-4-3-2-1

 

  1. Dalam Q.S. As-Syuura:38 terdapat tanda-tanda muslim yang baik, yaitu . . . .

a.   diberi rezeki oleh Allah SWT                 d.      menyantuni anak yatim

b.   menafkahkan sebagian rezekinya           e.      berserah diri kepada Allah SWT

c.   melaksanakan puasa

 

  1. Musyawarah dalam Islam sangat ditekankan karena berkaitan dengan . . . .

a.   pola hidup berkeluarga                           d.      jalinan persaudaaan Islam

b.   kepentingan masing-masing                   e.      tradisi dan budaya Islam

c.   aturan ketetapan pemerintah

 

  1. Allah SWT memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad SAW berupa  . . . .

a.   perasaan lemah lembut                           d.      rendah hati dan penakut

b.   suka bermusyawarah                              e.      selalu mengalah

c.   sikap keras dan kasar

  1. وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْالِرَبِّهِمْ

Potongan ayat diatas merupakan ciri orang yang disukai oleh Allah, yaitu mereka yang….

a.   selalu bermusyawarah                            d.      mematuhi seruan Allah SWT

b.   menafkahkan sebagian rezeki                e.      mendirikan salat

c.   bertawakal

 

  1. B.     Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar !
  2. C.    Kerjakan soal-soal dibawah ini dengan benar !
  1. Beberapa petunjuk sikap dalam musyawarah sebagaimana dicontohkan dalam Q.S. Ali Imran :159 adalah……………………………………………………………………………………………………………………………..
  2. Musyawarah dalam Islam ditekankan untuk membahas dan memutuskan permasalahan yang
  3. Hukum bacaan tajwid mufakhamah cara membacanya adalah ……………………………………..
  4. Sikap tawakal atas kesepakatan keputusan dalam musyawarah yakni dengan cara…………..
  5. Disebutkan di dalam Q.S. Ali Imran : 159 bahwasanya Allah SWT menyukai orang -orang
  6. Bukti perhatian besar ajaran Islam terhadap musyawarah adalah terdapatnya surah…………
  7. Salah satu fungsi penting musyawarah pada kehidupan masyarakat, yaitu …………………….
  8. Hukum bacaan tajwid kalimat bergaris bawah رَحْمَةٍ مِّنَ  adalah . . . . . . adapun cara membacanya adalah ……………………………………………………………………………………………………………………………..
  9. Dalam Q.S. Ali Imran : 159, lanjutan potongan ayat  إِنَّ اللهَ يُحِبُّ   adalah ………………….
  10. Nabi Muhammad SAW sering melakukan musyawarah terhadap urusan yang berkaitan dengan
  1. Mengapa ada mekanisme syura dalam ajaran Islam ?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Bagaimanakah jika dalam musyawarah kita berhati kasar dan bersikap keras ?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Sebutkan ciri-ciri muslim yang baik sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syuura:38!

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Dalam Islam, masalah apa yang dianjurkan untuk dilakukan mekanisme syura?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Mengapa seorang muslim harus bertawakal kepada Allah SWT atas hasil keputusan musyawarah?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. II.    Tes Praktik

Kerjakanlah sesuai dengan perintah !

  1. Hafalkanlah Q.S. Ali Imran ayat 159 dan Q.S. Asy-Syuura Ayat 38 beserta artinya dan ceritakanlah kandungan ayatnya di depan kelas !
  2. Tulislah Q.S. Ali Imran ayat 159 dan Q.S. Asy-Syuura ayat 38 di buku tulismu dan analisislah hukum bacaan tajwidnya!

III. Tes Perbaikan

  1. A.    Isilah titik-titik dibawah ini dengan benar !
    1. Dalam Islam, masalah atau perkara yang perlu dimusyawarahkan adalah……………………….
    2. Menurut Q.S. Ali Imran ayat 159, orang yang disukai Allah SWT adalah………………………
    3. Pada kalimat رَزَ قْنَهُمْ terdapat hukum tajwid . . . . . dan cara membacanya adalah………..
    4. Salah satu sisi baik demokrasi adalah . . . . . ., sedangkan sisi buruknya adalah ……………….
    5. Musyawarah dianggap penting untuk menciptakan. . . . . . . dimasayarakat.
  2. B.     Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan tepat !
  1. Apakah pengertian musyawarah ?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Mengapa sikap pemaaf diperlukan dalam proses musyawarah ?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Bagaimanakah cara bertawakkal terhadap keputusan musyawarah ?

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Jelaskan fungsi penting musyawarah dalam kehidupan bermasyarakat !

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

  1. Tunjukkan hukum bacaan tajwid pada kalimat berikut !

وَمِمَّا رَزَقْنَهُمْ يُنفِقُوْنَ

Jawab : ………………………………………………………………………………………………………………….

 

 

Pengayaan

 

Musyawarah di Tsaqifah

 

       Saat Rasulullah SAW merasa bahwa ajalnya sudah dekat, beliau tidak meninggalkan pesan apa-apa tentang siapa pengganti pemimpin umat. Beliau tidak menunjuk seseorang sebagai kandidat. Dalam hal ini Rasulullah SAW mempercayakan kepada para sahabat dan generasi di belakangnya untuk memutuskan dalam mekanisme musyawarah.

Peristiwa Tsaqifah merupakan tonggak sejarah masyarakat baru Islam yang membangun sistem sosial politik dengan prinsip-prinsip syura’. Hal ini tidak lazim dilakukan oleh masyarakat sebelumnya yang biasa mewariskan kekuasaan kepada ahli waris atau putra mahkota.

Meskipun pada awalnya, musyawarah di Tsaqifah diwarnai ketegangan, bahkan sempat memanas hampir sampai pada puncaknya. Namun, dengan kebesaran hati semua pihak yang terlibat di dalamnya, akhirnya musyawarah menghasilkan keputusan bulat, mengangkat Abu Bakar Assidiq sebagai khalifah pertama menggantikan Rasulullah SAW sebagai kepala pemerintahan Islam. Setelah itu para sahabat dan kaum muslimin berbai’at. Menyatakan kesetiaannya pada kepemimpinan Abu Bakar Assidiq.

Dalam kaitannya dengan keteladanan musyawarah ini, Ali bin Abi Thalib pernah bertannya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, perkara khalifah (kekuasaan) turun kepada kita sesudah engkau, tanpa penjelasan dari Al-Qur’an, dan kami tidak pernah mendengar dari mu tentang itu.

Atas pertanyaan ini, Rasulullah SAW menjawab, “Kumpulkanlah orang-orang ahli ibadah dari umatku untuk kepentingan itu, dan jadikanlah perkara itu syura’ di antara mu, dan janganlah memutuskan perkara itu dengan satu pendapat.

Oleh karenanya, tidak ada keraguan bagi kita untuk meneruskan tradisi syura’ ini sebagai landasan hidup bermasyarakat dalam rangka membangun masyarakat baru yang lebih beradab, yang diridhai Allah SWT.

 

 

KUNCI JAWABAN BAB 7 MUSYAWARAH KELAS X

 

 

  1. A.                1. B             6. D             11. D              16. B

     2. C             7. D             12. E             17. B

     3. A             8. B             13. E             18. D

     4. E              9. B             14. D             19. A

     5. C            10. E            15. B             20. D

 

B.        1. Lemah lembut,  pemaaf, segera minta ampunan Allah dan membulatkan tekat                                               untuk melaksanakan hasil musyawarah, serta bertawakal.

            2.  Permasalahan yang tidak terdapat dalam A-Qur’an dan hadits terhadap suatu masalah umat.

            3.  lafad Allah harus ditebalkan menjadi LOH.

            4.  Melaksanakan hasil musyawarah tersebut.

            5.  Yang bertawakkal kepada Allah.

            6.  Surah Asy-Syuura ayat 38.

            7.  Untuk menyatukan tekad dan kehendak dalam menuju tujuan bersama.

            8.  Idghom bi ghunnah, masuk dengan mendengung.

            9.  Mutawakkiliina.

           10. Keduniawian

 

 

C.

1.  Karena syuura merupakan perbuatan yang dilakukan secara timbal balik,    sehingga dapat meminimalisir adanya kekurangan atau kelemahan.

            2.  Mereka yang mengikuti musyawarah akan lari dan menjauh dari sekeliling kita.

            3.  Ciri muslim yang baik yaitu ; Mematuhi seruan Allah, mendirikan shalat, dan  bila punya urusan diantara mereka diputuskan dengan musyawarah, dan menginfakkan sebagian rezeqi yang telah diberikan Allah kepadanya.

            4.  Masalah yang sangat rumit yang belum dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits.

            5.  Karena manusia hanya bisa beriktiar sedang hasilnya yang menentukan hanya Allah semata dan dampaknya kalau bertawakkal hati kita menjadi tenang.

 

 

TES PERBAIKAN

 

 A.     1.  Perkara-perkara yang belum dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits / perkara  kedunian.

          2.  Orang yang lemah lembut, pemaaf dan selalu memohonkan ampun bagi orang lain.

          3. Qolqolah syugro, membacanya dengan memantulkan.

          4. Adanya kebersamaan / persatuan dan sisi buruknya mengetahui kelemahan orang lain.

          5. Kedamaian.

 

B.      1. Perbuatan dialogis antar sesama manusia dalam mencapai kesepakatan.

          2. Sebab bila berhati kasar dan keras seseorang akan menjauh dari sekelilingnya sehinga masud yang hedak dicapai tidak  berhasil.

          3.  Dengan melaksanakan hasil musyawarah yang telah disepakatunya.

          4.  Untuk menemukan kesepakatan bersama sehingga tercapai kedamaian dalam bermasyarakat.

          5.  Ghunnah, qolqolah syugra, idzhar safawi, ikhfa haqiqi dan mad arid lis sukun.

 

                                                                     

 

                                                                                                                                                                                                                                                        Penyusun

                                                                                              Drs.Rebo,M.Ag

                                                                                              SMAN 1 Karanganyar.

About these ads

Posted on 6 Desember 2011, in Tak Berkategori. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: